Selasa, 17 Januari 2012

materi hukum Perikatan

1. Sebutkan dan Jelaskan jenis-jenis Perjanjian
A. Perjanjian menurut sumbernya
a. Perjanjian konsensual adalah perjanjian di antara kedua belah pihak yang telah mencapai persesuaian kehendak untuk mengadakan perikatan (timbul karena kata sepakat). Menurut KUH Perdata perjanjian ini sudah mempunyai kekuatan mengikat sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya (Pasal 1338 KUH Perdata).
b. Perjanjian riil adalah perjanjian yang hanya berlaku sesudah terjadinya penyerahan uang, misalnya perjanjian penitipan barang (Pasal 1694 KUH Perdata) contoh jual beli barang bergerak

B. Perjanjian menurut hak dan kewajiban para pihak
a. Perjanjian sepihak adalah perjanjian yang menimbulkan kewajiban pada satu pihak saja, sedangkan pihak lainnya hanya ada hak, contoh hibah.
b. Perjanjian timbal balik adalah perjanjian yang menimbulkan kewajiban pokok bagi kedua belah pihak.contoh jual beli, sewa menyewa.

C. Perjanjian menurut keuntungan salah satu pihak dan adanya prestasi pada pihak yang lain
1. Perjanjian Cuma-Cuma, adalah perjanjian yang memberikan keuntungan bagi salah satu pihak tanpa menerima imbalan, contoh hibah dan pemberian kuasa

D. Perjanjian menurut namanya/khusus atau bernama atau nominal dan tidak bernama atau inominal
a. Perjanjian bernama/nominal adalah perjanjian yang mempunyai nama sendiri, maksudnya adalah perjanjian tersebut diatur dan diberi nama oleh pembentuk undang-undang (KUHPer) misalnya perjanjian jual beli, perjanjian tukar menukar, perjanjian pinjam meminjam.
b. Perjanjian tidak bernama/inominal yaitu perjanjian yang tidak mempunyi nama dan yang tidak diatur dalam KUHPer, akan tetapi terdapat dalam masyarakat misalnya sewa beli. Jumlah dari perjanjian ini tidak terbatas dan lahirnya berdasarkan asas kebebasan berkontrak.

E. Perjanjian menurut bentuknya
- Perjanjian obligatoir, yaitu perjanjian yang hanya (baru) meletakkan hak dan kewajiban pada masing-masing pihak dan belum memindahkan hak milik.
- Perjanjian Kebendaan (zakelijk overenkomst) adalah perjanjian untuk memindahkan hak milik dalam perjanjian jual beli atau penyerahan (levering). Perjanjian kebendaan ini sebagai pelaksanaan perjanjian obligatoir misalnya perjanjian jual beli.

F. Perjanjian yang istimewa sifatnya
1. Perjanjian liberatoir, yaitu perjanjian oleh para pihak yang membebaskan diri dari kewajiban yang ada, misalnya perjanjian pembebasan uang
2. Perjanjian pembuktian, yaitu perjanjian para pihak yang menentukan pembuktian apakah yang berlaku diantara mereka;
3. Perjanjian untung-untungan, misalnya perjanjian asuransi, Pasal 1774 KUH Perdata;
4. Perjanjian sebagian atau seluruhnya dikuasai oleh hukum publik, misalnya perjanjian pemborongan (Pasal 1601 b KUH Perdata).

G. Perjanjian campuran
Dalam perjanjian ini terdapat unsur-unsur dari perjanjian bernama yang terjalin menjadi satu sedemikian rupa, sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan sebagai perjanjian yang berdiri sendiri, contohnya: perjanjian antara pemilik hotel dengan tamu. Di dalam perjanjian yang demikian terdapat unsur perjanjian sewa menyewa(sewa kamar)dan jual beli(beli makanan dan minuman) atau perjanjian melakukan jasa (pesan tiket, penggunaan telepon)

H. Perjanjian penanggungan (Borgtocht)
Suatu persetujuan dimana pihak ketiga demi kepentingan kreditur mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan debitur, bila debitur tidk memnuhi perikatannya.


I. Perjanjian garansi
- Perjanjian garansi adalah suatu perjanjian dimana seorang A berjani kepada B, bahwa C akan berbuat sesuatu.
- Derden Beding atau jani untuk seorang pihsk ketiga ini merupakn pengecualian dari asas yang menentukan bahwa suatu perjanjian hanya mengikat pihak-pihak yang mngadakan perjanjian itu.

j. Perjanjian menurut sifatnya
Perjanjian Baku (standard contract)
a. Perjanjian baku sepihak atau perjanjian adhesi adalah perjanjian yang isinya ditentukan oleh pihak yang kuat kedudukannya didalam perjanjian itu. Pihak yang kuat disini ialah pihak kreditur yang lazimnya mempunyai posisi (ekonomi) kuat dibandingkan pihak debitur.
b. Perjanjian baku timbal balik adalah perjanjian baku yang isinya ditentukan oleh kedua pihak, misalnya perjanjian baku yang pihak-pihaknya terdiri dari pihak majikan (kreditur) dan pihak lainnya buruh (debitur). Kedua pihak lazimnya terikat dalam organisasi, misalnya pada perjanjian buruh kolektif.
c. Perjanjian baku yang ditetapkan pemerintah, ialah perjanjian baku yang isinya ditentukan pemerintah terhadap perbuatan-perbuatan hukum tertentu, misalnya perjanjian-perjanjian yang mempunyai obyek hak-hak atas tanah.
d. Perjanjian baku yang ditentukan di lingkungan notaris atau advokat adalah perjanjian-perjanjian yang konsepnya sejak semula sudah disediakan untuk memenuhi permintaan dari anggota masyarakat yang minta bantuan notaris atau advokat yang bersangkutan.


2. Sebutkan dan jelaskan macam-macam perikatan
A. Menurut Mariam Daruz Badrulzaman
1. Berdasarkan isi/prestasinya
1) Perikatan Positif dan Negatif
Ialah perikatan yang prestasinya berupa perbuatan positif yaitu memberi sesuatu dan berbuat sesuatu sedangkan perikatan negatif adalah perikatan yang prestasinya berupa sesuatu perbuatan yang negatif yaitu tidak berbuat sesuatu.
2) Perikatan sepintas lalu dan berkelanjutan
Perikatan sepintas lalu adalah perikatan yang pemenuhan prestasinya cukup hanya dilakukan dengan satu perbuatan saja dan waktu yang singkat tujuan perikatan telah tercapai sedangkan perikatan berkelanjutan adalah perikatan prestasinya berkelanjutan untuk beberapa waktu, misalnya perikatan yang timbul dari perjanjian-perjanjian sewa-menyewa dan perburuhan.
3) Perikatan alternatif
Ialah perikatan dimana debitur dibebaskan untuk memenuhi satu dari dua atau lebih prestasi yang disebutkan dalam perjanjian.
4) Perikatan fakultatif
Ialah perikatan yang hanya mempunyai satu objek prestasi, dimana debitur mempunyai hak untuk mengganti dengan prestasi yang lain, bilamana debitur tidak mungkin memenuhi prestasi yang telah ditentukan semula.
5) Perikatan generik dan spesifik
Perikatan generik adalah perikatan dimana objeknya hanya ditentukan jenis dan jumlahnya berang yang harus diserahakan debitur kepada kreditur, misalnya penyerahan sebanyak beras sebanyak 10 ton. Sedangkan perikatan spesifik adalah perikatan dimana objeknya ditentukan secara terperinci sehingga nampak ciri-ciri khususnya. Misalnya debitur diwajibkan menyerahkan beras sebnayak 10 ton dari cianjur kualitet ekspor nomor 1.
6) Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat dibagi
Perikatan yang dapat di bagi adalah perikatan yang prestasinya dapat dibagi, pembagian mana tidak boleh mengurangi hakikat prestasi itu. Sedangkan perikatan yang tidak dapat dibagi adalah perikatan yang prestasinya tidak dapat dibagi.

UU dalam pasal 1234 BW membedakan perikatan:
1. Untuk memberikan sesuatu
2. Untuk melakukan sesuatu
3. Untuk tidak melakukan sesuatu

2. Berdasarkan subjeknya
a. Perikatan tanggung renteng
Ialah perikatan dimana debitur dan / atau krediturnya terdiri dari beberapa orang. Selanjutnya mengenai perikatan tanggung-menaggung ini lihat pasal 1749 dan 1836 BW serta pasal 18 KUH Dagang.
b. Perikatan pokok (principle)
Perikatan pokok adalah perikatan antara debitur dan kreditur yang berdiri sendiri tanpa tergantung pada adanya perikatan yang lain contohnya, perjajian peminjaman uang.
c. Perikatan Tambahan (accesoire)
Perikatan tambahan ialah perikatan antara debitur dan kreditur yang diadakan sebagai perikata tambahan daripada perikatan pokok contohnya, perjanjian gadai, hipotik dan credietverband.

3. Berdasarkan daya kerjanya
a. Perikatan Bersyarat
Suatu Perikatan dinyatakan bersayarat, apabila ia digantungkan pada suatu peristiwa yang
masih akan datang dan masih belum tentu akan terjadi baik secara menangguhkan lahirnya perikatan hinggaterjadinya peristiwa semacam itu, maupun membatalkan perikatan menurut terjadinya atau tidak terjadinya peristiwa tersebut.
b. Perikatan dengan ketetapan waktu
Suatu ketetapan waktu tidak menangguhkan lahirnya suatu perjanjian atau perikatan,
melainkan hanya menangguhkan pelaksanaannya ataupun menentukan lama waktu
berlakunya suatu perikatan atau suatu perjanjian

B. Menurut J. Satrio
Perikatan berdasarkan doktrin :

- Perikatan Perdata dan Perikatan Alamiah (wajar)
Perikatan Perdata adalah perikatan yang pemenuhan prestasinya dapat digugat dimuka Pengadilan dalam arti dapat dimintakan bantuan hukum untuk pelaksanaannya. Sedangkan perikatan wajar/alamiah adalah perikatan yang pemenuhan prestasinya tidak dapat digugat dimuka pengadilan, jadi tanpa gugat (ada schuld tanpa haftung). Pasal 1359 KUH Perdata pada perikatan alamiah, sekail orang melunasi perikatan alamiah secara suka rela maka uang pelunasan itu tidak dapat dituntut kembali.

- Perikatan Pokok (Principal) dan Perikatan Accesoir
Perikatan principal adalah perikatan pokok. Perikatan assesoir adalah perikatan yang tambahan. Apabila seorang debitur atau lebih terikat sedemikian rupa sehingga perikatan yang satusampai batas tertentu tergantung kepada perikatan yang lain, maka perikatan yang pertama disebut perikatan pokok sedangkan yang lainnya perikatan asessoir. Misalnya perikatan utang dengan jaminan fidusia, perjanjian gadai, hipotik dan credietverband.
Perikatan utang piutangnya adalah perikatan principal dan perikatan fidusia adalah perikatan assesoir. Jika perikatan utang piutangnya lunas maka perikatan fidusianya turut lunas.
- Perikatan Primer dan Perikatan sekunder
Perikatan primer adalah perikatan dimana objeknya ditentukan menurut jenis dan jumlahnya, misalnya kewajiban menyerahkan 100 kg gula pasir. Sedangkan perikatan sekunder adalah perikatan yang objeknya ditentukan secara terperinci, misalnya kewajiban untuk menyerahkan rumah tertentu yang telah ditunjuk
- Perikatan sepintas lalu dan berkelanjutan (memakan waktu)
Adakalanya untuk pemenuhan perikatan cukup hanya dilakukan dengan salah satu perbuatan saja dan dalam waktu yang singkat tujuan perikatan telah tercapai, misalnya perikatan untuk menyerahkan barang yang dijual dan membayar harganya.
Perikatan-perikatan semacam ini disebut perikatan sepintas lalu. Sedangkan perikatan, dimana prestasinya bersifat terus menerus dalam jangka waktu tertentu, dinamakan perikatan berkelanjutan. Misalnya perikatan-perikatan yang timbul dari persetujuan sewa menyewa atau persetujuan kerja.

- Perikatan positif dan negatif
Perikatan positif adalah perikatan yang prestasinya berupa perbuatan nyata, misalnya memberi atau berbuat sesuatu misalnya mewajibkan debitur untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Sedangkan pada perikatan negatif prestasinya berupa tidak berbuat sesuatu. misalnya melarang orang berbuat sesuatu atau mewajibkan debitur untuk membiarkan sesuatu berlangsung (perikatan untuk tidak berbuat sesuatu).

- Perikatan yang Sederhana dan Perikatan yang Kumulatif (Berlipat Ganda)
Perikatan yang sederhana adalah perikatan yang prestasinya terdiri dari satu prestasi. Pada perikatan sederhana kewajiban yang harus ditunaikan oleh debitur adalah adalah suatu kewajiban tertentu saja dan kreditur berhak untuk menolak kalau debitur memberikan prestasi yang lain yang bukan diperjanjikan. Contohnya : pinjam pakai, kewajiban debitur adalah mengembalikan barang tertentu yang dipinjam. Namun kreditur tidak wajib untuk menerima (merasa puas) dengan pengembalian barang yang sejenis sekalipun nilainya sama atau bahkan lebih tinggi.
Perikatan yang berlipat ganda adalah perikatan yang terdiri dari beberapa prestasi. Pemenuhan dari satu prestasi belum membebaskan debitur dari kewajibannya yang lain. Contoh : pada perjanjian jual beli timbul banyak perikatan dan karenanya ada beberapa kewajiban yang harus dipenuhi oleh penjual.
Perikatan yang muncul adalah (1) penjual berkewajiban untuk menyerahkan barangnya (2) selama belum diserahkan, memeliharanya dengan baik, (3) penjual harus menanggung barang tersebut bebas dari sitaan dan beban-beban. Dengan penyerahan objek jual beli saja belum membebaskan penjual dari kewajiban untuk menjamin.

- Perikatan alternative dan Perikatan fakultatif
Perikatan alternative adalah suatu perikatan, dimana debitur berkewajiban melaksanakan satu dari dua atau lebih prestasi yang dipilih, baik menurut pilihan debitur, kreditur atau pihak ketiga, dengan pengertian bahwa pelaksanaan daripada salah satu prestasi mengakhiri perikatan.
Perikatan fakultatif adalah suatu perikatan yang objeknya hanya berupa satu prestasi, dimana debitur dapat mengganti dengan prestasi lain. Jika pada perikatan fakultatif, karena keadaan memaksa prestasi primairnya tidak lagi merupakan objek perikatan, maka perikatannya menjadi hapus. Berlainan halnya pada perikatan alternative, jika salah satu prestasinya tidak lagi dapat dipenuhi karena keadaan memaksa, perkataannya menjadi murni.

- Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat dibagi
Apakah suatu perikatan dapat dibagi atau tidak tergantung apakah prestasinya dapat dibagi-bagi atau tidak. Pasal 1299 BW menentukan bahwa jika hanya ada satu debitur atau satu kreditur prestasinya harus dilaksanakan sekaligus, walaupun prestasinya dapat dibagi-bagi. Baru timbul persoalan apakah perikatan dapat dibagi-bagi atau tidak jika para pihak atau salah satu pihak dan pada perikatan terdiri dari satu subjek. Hal ini dapat terjadi jika debitur atau krediturnya meninggal dan mempunyai ahli waris lebih dari satu.
Akibat daripada perikatan yang tidak dapat dibagi-bagi, adalah bahwa kreditur dapat menuntut terhadap setiap debitur atas keseluruhan prestasi atau debitur dapat memenuhi seluruh prestasi kepada salah seorang kreditur, dengan pengertian bahwa pemenuhan prestasi menghapuskan perikatan.
C. Pembagian Perikatan Berdasarkan KUHPer
Dalam KUHPer terdapat dua perikatan, yaitu:
1. Perikatan Sipil/Biasa/Perdata (Civiele Verbintennisen), yaitu perikatan yang bila tidak dipenuhi akan dilakukan gugatan (hak tagihan) dan dapat dituntut di muka pengadilan, misalnya jual beli, dan lain-lain.
2. Perikatan Alami/Wajar (Naturlijke Verbintennisen), yaitu perikatan yang tidak mempunyai hak tagihan, tapi jika sudah dibayar/dipenuhi tidak dapat diminta lagi. Misalnya hutang karena pertaruhan, judi (pasal 1359 ayat 2).

2 komentar: